Kurikulum berpusat pada filsafat.
Pada sekolah tertentu, filsafat mempengaruhi tujuan, isi, dan susunan dari kurikulum.
Masalah kefilsafatan selalu memiliki dampak di sekolah dan masyarakat. Terlebih
saat ini masyrakat dan sekolahnya berubah dengan cepat. Filsafat menyediakan
pendidik, terutama pekerja kurikulum baik dengan rangka kerja atau rangka kerja
untuk menyusun sekolah dan ruang kelas. Falsafah juga menyediakan suatu dasar
untuk memilih buku teks mana yang akan digunakann, bagaimana menggunakannya,
dan berapa banyak tugas rumah untuk diserahkan, bagaimana menguji siswa dan
menggunakan hasil ujian, dan materi pelajaran apa yang dapat ditekankan. Falsafah
mencerminkan latar belakang dan pengalaman kita. Sebagai sumber kurikulum, fungsi
falsafah dapat dipahami sebagai titik awal pengembangan kurikulum atau fungsi
yang saling bergantung dengan fungsi lain dalam pengembangan kurikulum. Menurut
John Dewey, falsafah merupakan suatu cara pemikiran yang memberikan arti bagi
hidup kita. Tidak hanya sebuah titik awal bagi sekolah, tapi juga sangat
penting untuk segala aktifitas kurikulum.
Terdapat empat filsafat utama
yang mempengaruhi pendidikan U.S, yaitu idealisme,
realisme, pragmatisme, dan eksistensialisme.
Berdasarkan keempat filsafat
utama di atas muncullah empat filsafat pendidikan, yaitu perenialisme, esensialisme, progresivisme, dan rekonstruksionisme. Masing-masing
filsafat tersebut berakar pada satu atau lebih dari empat filsafat utama. Misalnya,
esensialisme yang berakar pada idealisme dan realisme.
1. Perenialisme
Falsafah pendidikan
tertua dan paling kuno yang berakar pada realisme. Tujuan pendidikan falsafah
ini adalah untuk mendidik orang rasional dan mengolah orang pandai. Fokus kurikulumnya
adalah subjek klasik, analisis sastra dan kurikulum tetap.
2. Esensialisme
Berakar pada
idealisme dan realisme. Esensialisme tercermin dalam tuntutan masyarakat
sekarang untuk meningkatkan standar akademis. Tujuan pendidikan falsafah ini
adalah untuk memajukan perkembangan intelektual individu dan mendidik orang
yang berkompeten. Fokus kurikulumnya adalah kemampuan esensial (3R) dan subjek
esensial (bahasa Inggris, sains, sejarah, matematika dan bahasa asing).
3. Progresivisme
Berkembang dari
filsafat pragmatik, kebalikan dari paham perenialisme dalam pendidikan. Tujuan pendidikan
falsafah ini adalah untuk memajukan demokrasi dan kehidupan sosial. Dalam paham
ini guru berperan dalam penyelesaian masalah dan penyelidikan ilmiah. Fokus kurikulumnya
berdasarkan pada minat siswa, masalah dan urusan manusia, serta aktifitas dan
proyek.
4. Rekonstruksionisme
Falsafah ini
berakar pada pragmatisme. Kemampuan dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki masalah kemasyarakatan. Guru sebagai agen perubahan dan pembaruan,
pemimpin penelitian dan direktur sebuah proyek. Tujuan paham ini adalah untuk
memperbaiki dan merekonstruksi masyarakat, serta mendidik untuk perubahan dan pembaruan
sosial. Rekonstruksionisme menekankan pada ilmu dan metode penelitian sosial,
pemeriksaan ekonomi sosial dan masalah politik, fokus pada tren sekarang dan
masa depan, serta masalah nasional dan internasional.
Sudut pandang filsafat utama berkisar dari tradisional dan
konservatif ke kontemporer dan liberal. Mereka mempengaruhi teori pendidikan,
yaitu perenialisme dan esensialisme yang mana tradisional dan konservatif,
serta progresivisme dan rekonstruksionisme yang mana kontemporer dan liberal. Contoh
dari perbedaan filsafat tersebut adalah pendidikan formal dalam filsafat
tradisional dimulai dengan sekolah (sekolah merupakan lembaga utama dari
pendidikan anak), sedangkan dalam filsafat kontemporer pendidikan formal
dimulai dengan keluarga (orang tua memiliki pengaruh paling penting dalam
pendidikan anak).
Beberapa sekolah menggunakan satu falsafah, namun
kebanyakan menggabungkan beberapa falsafah. Tidak ada satu falsafah, lama atau baru,
yang secara spesial memandu keputusan tentang sekolah dan kurikulum. Hal terpenting
adalah bahwa suatu pendekatan sekolah pada kurikulum secara politis dan
ekonomis layak dan dapat melayani kebutuhan siswa dan masyarakat.
Pertanyaan :
Pendekatan sekolah yang bagaimana yang secara politis dan
ekonomis layak dan dapat melayani kebutuhan siswa dan masyarakat?