Selasa, 26 September 2017

Landasan Filosofi Kurikulum

Kurikulum berpusat pada filsafat. Pada sekolah tertentu, filsafat mempengaruhi tujuan, isi, dan susunan dari kurikulum. Masalah kefilsafatan selalu memiliki dampak di sekolah dan masyarakat. Terlebih saat ini masyrakat dan sekolahnya berubah dengan cepat. Filsafat menyediakan pendidik, terutama pekerja kurikulum baik dengan rangka kerja atau rangka kerja untuk menyusun sekolah dan ruang kelas. Falsafah juga menyediakan suatu dasar untuk memilih buku teks mana yang akan digunakann, bagaimana menggunakannya, dan berapa banyak tugas rumah untuk diserahkan, bagaimana menguji siswa dan menggunakan hasil ujian, dan materi pelajaran apa yang dapat ditekankan. Falsafah mencerminkan latar belakang dan pengalaman kita. Sebagai sumber kurikulum, fungsi falsafah dapat dipahami sebagai titik awal pengembangan kurikulum atau fungsi yang saling bergantung dengan fungsi lain dalam pengembangan kurikulum. Menurut John Dewey, falsafah merupakan suatu cara pemikiran yang memberikan arti bagi hidup kita. Tidak hanya sebuah titik awal bagi sekolah, tapi juga sangat penting untuk segala aktifitas kurikulum.

Terdapat empat filsafat utama yang mempengaruhi pendidikan U.S, yaitu idealisme, realisme, pragmatisme, dan eksistensialisme.



Berdasarkan keempat filsafat utama di atas muncullah empat filsafat pendidikan, yaitu perenialisme, esensialisme, progresivisme, dan rekonstruksionisme. Masing-masing filsafat tersebut berakar pada satu atau lebih dari empat filsafat utama. Misalnya, esensialisme yang berakar pada idealisme dan realisme.

1.       Perenialisme
Falsafah pendidikan tertua dan paling kuno yang berakar pada realisme. Tujuan pendidikan falsafah ini adalah untuk mendidik orang rasional dan mengolah orang pandai. Fokus kurikulumnya adalah subjek klasik, analisis sastra dan kurikulum tetap.
2.       Esensialisme
Berakar pada idealisme dan realisme. Esensialisme tercermin dalam tuntutan masyarakat sekarang untuk meningkatkan standar akademis. Tujuan pendidikan falsafah ini adalah untuk memajukan perkembangan intelektual individu dan mendidik orang yang berkompeten. Fokus kurikulumnya adalah kemampuan esensial (3R) dan subjek esensial (bahasa Inggris, sains, sejarah, matematika dan bahasa asing).
3.       Progresivisme
Berkembang dari filsafat pragmatik, kebalikan dari paham perenialisme dalam pendidikan. Tujuan pendidikan falsafah ini adalah untuk memajukan demokrasi dan kehidupan sosial. Dalam paham ini guru berperan dalam penyelesaian masalah dan penyelidikan ilmiah. Fokus kurikulumnya berdasarkan pada minat siswa, masalah dan urusan manusia, serta aktifitas dan proyek.
4.       Rekonstruksionisme
Falsafah ini berakar pada pragmatisme. Kemampuan dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah kemasyarakatan. Guru sebagai agen perubahan dan pembaruan, pemimpin penelitian dan direktur sebuah proyek. Tujuan paham ini adalah untuk memperbaiki dan merekonstruksi masyarakat, serta mendidik untuk perubahan dan pembaruan sosial. Rekonstruksionisme menekankan pada ilmu dan metode penelitian sosial, pemeriksaan ekonomi sosial dan masalah politik, fokus pada tren sekarang dan masa depan, serta masalah nasional dan internasional.


Sudut pandang filsafat utama berkisar dari tradisional dan konservatif ke kontemporer dan liberal. Mereka mempengaruhi teori pendidikan, yaitu perenialisme dan esensialisme yang mana tradisional dan konservatif, serta progresivisme dan rekonstruksionisme yang mana kontemporer dan liberal. Contoh dari perbedaan filsafat tersebut adalah pendidikan formal dalam filsafat tradisional dimulai dengan sekolah (sekolah merupakan lembaga utama dari pendidikan anak), sedangkan dalam filsafat kontemporer pendidikan formal dimulai dengan keluarga (orang tua memiliki pengaruh paling penting dalam pendidikan anak).
Beberapa sekolah menggunakan satu falsafah, namun kebanyakan menggabungkan beberapa falsafah. Tidak ada satu falsafah, lama atau baru, yang secara spesial memandu keputusan tentang sekolah dan kurikulum. Hal terpenting adalah bahwa suatu pendekatan sekolah pada kurikulum secara politis dan ekonomis layak dan dapat melayani kebutuhan siswa dan masyarakat.

Pertanyaan :
Pendekatan sekolah yang bagaimana yang secara politis dan ekonomis layak dan dapat melayani kebutuhan siswa dan masyarakat?

6 komentar:

  1. Pendekatan yang didasarkan pada komunikasi dan kerjasama antara pihak sekolah, wali siswa dan masyarakat. Perlu adanya komite sekolah yg mengurus keuangan dan berbagai kegiatan.

    BalasHapus
  2. Pada hakikatnya,perlu adanya pendekatan yang di lakukan antar pihak sekolah,wali siswa dan masyarakat. Seperti segala kegiatan yang di lakukan siswa di sekokah,tentunya perlu adanya komunikasi dengan wali siswa agar wali siswa mengetahui dengan pasti kegiatan anaknya di sekolah. Dengan dilakukannya komunikasi yg baik antar pihak sekolah dan wali siswa,pasti memvawa dampak baik dengan siswa. Siswa jadi merasa mendapat dukungan dari keluarga dan sekolah juga dapat dukungan dari pihak wali siswa. Jika ada kegiatan yg membutuhkan biaya yg cukup besar,dapat di bantu oleh pihak keluarga jika keluarga tau kegiatan apa yg dilakukan.

    BalasHapus
  3. Pada hakikatnya,perlu adanya pendekatan yang di lakukan antar pihak sekolah,wali siswa dan masyarakat. Seperti segala kegiatan yang di lakukan siswa di sekokah,tentunya perlu adanya komunikasi dengan wali siswa agar wali siswa mengetahui dengan pasti kegiatan anaknya di sekolah. Dengan dilakukannya komunikasi yg baik antar pihak sekolah dan wali siswa,pasti memvawa dampak baik dengan siswa. Siswa jadi merasa mendapat dukungan dari keluarga dan sekolah juga dapat dukungan dari pihak wali siswa. Jika ada kegiatan yg membutuhkan biaya yg cukup besar,dapat di bantu oleh pihak keluarga jika keluarga tau kegiatan apa yg dilakukan.

    BalasHapus
  4. menurut literatur terdapat berbagai kelemahan yang berkembang di masyarakat, dan dengan mempertimbangkan akar budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, maka sekolah di Indonesia seharusnya dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupannya di masa depan, yaitu: (a) kompetensi keagamaan, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan keagamaan yang diperlukan untuk dapat menjalankan fungsi manusia sebagai hamba Allah yang Maha Kuasa dalam kehidupan sehari-hari, (b) kompetensi akademik, meliputi pengetahuan, sikap, kemampuan, dan keterampulan yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sesuai dengan jenjang pendidikannya, (c) kompetensi ekonomi, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampulan yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi agar dapat hidup layak di dalam masyarakat, dan (d) kompetensi sosial pribadi, meliputi pengetahuan, system nilai, sikap, dan keterampilan untuk dapat hidupadaptif sebagai warga negara dan warga maysarakat internasional yang demokratis.

    BalasHapus
  5. Kalau bicara soal politis dan ekonomis maka sekolah dituntut untuk menjadi wadah pengembangan sumberdaya manusia yang paripurna (menyeluruh). Politis menuntut sekolah untuk menciptakan pelajar memiliki sikap leadership yang sangat baik. Ekonomis menuntut sekolah untuk menciptakan pelajar yang memiliki sikap mandiri dan entrepreneurship. Saya rasa belum ada lembaga pendidikan yang secara paripurna mengajarkan dan menuntut hal ini kepada pelajarnya.

    BalasHapus
  6. Pada hakikatnya,perlu adanya pendekatan yang di lakukan antar pihak sekolah,wali siswa dan masyarakat. Seperti segala kegiatan yang di lakukan siswa di sekokah,tentunya perlu adanya komunikasi dengan wali siswa agar wali siswa mengetahui dengan pasti kegiatan anaknya di sekolah. Dengan dilakukannya komunikasi yg baik antar pihak sekolah dan wali siswa,pasti memvawa dampak baik dengan siswa. Siswa jadi merasa mendapat dukungan dari keluarga dan sekolah juga dapat dukungan dari pihak wali siswa. Jika ada kegiatan yg membutuhkan biaya yg cukup besar,dapat di bantu oleh pihak keluarga jika keluarga tau kegiatan apa yg dilakukan.

    BalasHapus